Sejarah Kerajaan Islam di Sulawesi - Kesultanan Gowa, Kesultanan Buton
Sejarah Kerajaan Islam di Sulawesi
Sebuah Pulau yang berada di wilayah Indonesia ini pernah tumbuh juga kerajaan-kerajaan di Sulawesi, dimana pulau ini memiliki letak strategis sebagai jalur perdagangan sehingga memudahkan Islam masuk melalui perdagangan. Berikut ini adalah beberapa kerajaan Islam di Sulawesi diantaranya Kesultanan Gowa dan Buton.
Kesultanan Gowa
Kesultanan Gowa atau kadang di tulis Goa, adalah salah satu kerajaan yang terdapat di daerah Sulawesi Selatan. Rakyat dari kerajaan ini kebanyakan berasal dari Suku Makassar yang berdiam di ujung selatan Sulawesi. Oleh karena itu, kerajaan ini dikenal pula sebagai Kerajaan Makassar.
Wilayah kerajaan ini sekarang berada dibawah Kabupaten Gowa. Kerajaan Gowa dapat berkembang pesat karena menjadi bandar penghubung antara Malaka, Jawa, dan Maluku di Indonesia bagian timur.
Islam masuk ke wilayah Gowa lewat pengaruh Kesultanan Ternate. Raja Gowa yang pertama masuk Islam adalah Karaeng Tunigallo. Ia masuk Islam setelah menerima dakwah dari Dato Ri Bandang. Selanjutnya Karaeng Tunigallo memakai gelar Sultan Alaudin Awwalul Islam (1605-1638).
Kerajaan ini mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin (1654-1650). Ia berhasil membangun Gowa menjadi kerajaan yang menguasai jalur perdagangan di wilayah Indonesia bagian timur.
Belanda melalui VOC-nya ingin menguasai perdaganan di sana. Mereka ingin menguasai perdagangan rempah-rempah di Indonesia timur. Inilah yang menjadi pemicu perang Belanda dengan Gowa. Belanda akhirnya berperang dengan Sultan Hasanuddin lalu dijuluki "Ayam Jantan dari Timur" oleh orang-orang Belanda sendiri.
Walaupun demikian Sultan Hasanuddin mengalami kekalahan. Hal tersebut berujung pada ditandatanganinya Perjanjian Bogaya. Akibatnya, pada tahun 1667 Belanda dapat menguasai wilayah Makassar. Kekalahan Sultan Hasanuddin juga dipicu oleh adanya siasat adu domba Belanda. Sultan Hasanuddin diadu domba dengan Raja Aru Palaka dari Kerajaan Bone.
Kesultanan Buton
Kesultanan Buton terletak di Pulau Buton, sebelah tenggara Pulau Sulawesi. Nama Pulau Buton telah dikenal sejak zaman pemerintahan Majapahit. Patih Gajah Mada dalam Sumpah Pelapa, menyebut nama Pulau Buton.
Kerajaan Buton secara resminya menjadi sebuah kerajaan Islam pada masa pemerintahan Raja Buton ke-6. Saat itu Buton dipimpin oleh Timbang Timbangan atau Lakilapotan atau Halu Oleo dianggap sebagai Sultan Keajaan Islam Buton pertama, dinamakan Sultan Murhum. Berikut ini proses masuk berkembangnya Islam di Buton.
- Syeikh Abdul Wahid pertama kali sampai di Buton tahun 933 H/1526 M.
- Syeikh Abdul Wahid sampai ke Buton kali ke dua pada tahun 948 H/1541 M.
- Kedatangan Syeikh Abdul Wahid yang kedua di Buton pada tahun 948 H/1541 M bersama guru beliau yang bergelar Imam Fathani. Ketika itulah terjadi pengislaman beramai-ramai dalam lingkungan Istana Kesultanan Buton dan sekaligus melantik Sultan Murhum sebagai Sultan Buton pertama.
Untuk mengatur kehidupan bernegara dan bermasyarakat, dikerajaan ini diberlakukan undang-undang yang disebut Martabat Tujuh. Berdasarkan undang-undang tersebut diketahui bahwa kerajaan Islam Buton lebih mengutamakan ajaran tasauf daripada ajaran yang bercorak zahiri. walau demikian, ajaran syariat islam tidak di abaikan.
Semua perundangan ditulis daalam bahasa Walionmenggunakan huruf Arab, yang dinamakan Buru Walio. Hal ini memiliki kesamaan dengan kerajaan-kerajaan Melayu yang menggunakan bahasa Melayu/Jawi dengan tulisan huruf Arab. Huruf dan bahasa tersebut selain digunakan untuk perundangan, juga digunakan dalam penulisan silsilah kesultanan, naskah-naskah dan lain sebagainya. Tulisan tersebut tidak digunakan lagi menjelang kemerdekaan Indonesia tahun 1945.
Tag : Sejarah Kerajaan Islam di Sulawesi, Kesultanan Gowa, Kesultanan Buton
Tag : Sejarah Kerajaan Islam di Sulawesi, Kesultanan Gowa, Kesultanan Buton

0 Response to "Sejarah Kerajaan Islam di Sulawesi"
Posting Komentar